|
PT. Krakatau Steel Menggunakan KA Barang CILEGON, KOMPAS – Setelah menjalin kerja sama pengangkutan barang dengan PT. Kereta Api (Persero), PT. Krakatau Steel mampu lebih cepat mendistribusikan baja ke kawasan industri. Produk baja itu dibawa dari pabrik Krakatau Steel di Cilegon, Banten, ke Surabaya, Jawa Timur.
Jika dibandingkan, truk mengangkut baja dari Cilegon ke Surabaya dalam tujuh hari, sedangkan kereta tiga hari. Total perjalanan kereta sebenarnya hanya 23 jam, tetapi sering harus berhenti karena masih ada jalur kereta tunggal dan harus mengalah dengan angkutan penumpang. “Model pengangkutan seperti ini sebenarnya dapat mulai diterapkan badan usaha milik negara. PT. Kereta Api (KA) dan PT. Krakatau Steel telah memulai kerja sama yang baik untuk dijadikan contoh sinergi BUMN,” kata Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono, Kamis (28/1), saat meresmikan pengangkutan baja milik PT. Krakatau Steel oleh PT. KA. Meski ini sinergi dari dua BUMN, diakui Wakil Menhub, kontrak dikerjakan secara profesional. “Bila kereta terlambat, PT. KA dikenai denda. Itu bagus supaya pelayanan tetap baik,” ujar Bambang. Bambang menegaskan, pengangkutan oleh kereta menguntungkan perusahaan karena lebih cepat. Lebih dari itu juga turut mempertahankan kualitas jalan. “Satu rangkaian kereta dengan 16 gerbong mampu mengangkut 480 ton baja. Setara dengan 120 truk kontainer ukuran 40 kaki dalam sebulan,” ujar dia. Tarif tiap ton Rp. 180.000. Kementerian Pekerjaan Umum menyatakan, kerusakan jalan utamanya disebabkan truk pengangkut semen, pupuk, dan baja. Jika dicermati, sebenarnya produsen dari komoditas itu umumnya juga BUMN, seperti PT. Semen Gresik, PT. Krakatau Steel, dan PT. Semen Kujang. Dalam jangka panjang, kata Bambang, angkutan kereta diandalkan untuk melayani kawasan pantai utara (pantura) Pulau Jawa. Pantura merupakan satu dari enam koridor pertumbuhan yang dicanangkan pemerintah. Target Naik Direktur Komersial PT. KA Sulistyo Wimbo Hardjito mengatakan, tahun 2010 ditargetkan mengangkut 23,9 juta ton barang dengan pendapatan Rp. 2,13 triliun. Khusus baja, diproyeksikan 19.200 ton baja dengan pendapatan Rp. 5,9 miliar. Sementara tahun 2015 diprediksi mengangkut 1.000 TEUs kontainer per hari dengan pendapatan hingga Rp. 1 triliun, 50.000 ton baja coil per bulan (Rp. 40 miliar), 4.000 ton semen per hari (Rp. 21 miliar), dan 40.000 ton pasir besi per bulan (Rp. 40 miliar). Kereta membawa baja dari Cilegon menuju Surabaya. Saat kembali menuju Cilegon, kereta mengangkut pupuk, papan gypsum, hingga gula rafinasi. Ada pendapatan tambahan. Sulistyo mengatakan, hambatan terbesar dari kereta barang adalah jalur rel yang belum ganda (double track) sehingga memperlama waktu tempuh. Juga belum ada sinkronisasi regulasi antara angkutan darat dan kereta. Pembangunan rel dari Jakarta ke Cilegon sedang dikerjakan. Sementara di jalur pantura Jawa, jalur rel ganda ada mulai Jakarta hingga Cirebon. Direktur Pemasaran Krakatau Steel Irvan Kamal Hakimmengatakan, angkutan kereta diandalkan sebagai jalur distribusi baja. Juga ada rencana kenaikan produksi, dari 2,5 juta ton baja per tahun tahun 2010 menjadi 4,5 juta ton baja tahun 2013. Jaringan kereta juga diharapkan dapat menjadi tulang punggung transportasi dari pelabuhan Cigading milik PT. Krakatau Steel menuju Jakarta. Pelabuhan Cigading, Cilegon, sebenarnya berkategori terminal khusus. Namun karena ada kelebihan kapasitas, pelabuhan itu disewakan ke pihak lain. (RYO) |